Hijir Ismail adalah sebuah area berbentuk setengah lingkaran yang berada di sisi utara Ka'bah, Masjidil Haram, Makkah. Meskipun tampak berada di luar bangunan Ka'bah, sebenarnya Hijir Ismail merupakan bagian dari Ka'bah yang tidak ikut dibangun kembali oleh kaum Quraisy sebelum masa kenabian Nabi Muhammad ﷺ.
Kisah Hijir Ismail berawal dari perjalanan panjang Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di sebuah lembah tandus yang kini dikenal sebagai Kota Makkah. Dengan penuh keimanan, Hajar menerima ketetapan Allah. Ketika persediaan air habis, Hajar berlari tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah mencari pertolongan. Atas rahmat Allah, muncullah mata air Zamzam yang menjadi sumber kehidupan di daerah tersebut.
Beberapa tahun kemudian, ketika Nabi Ismail telah tumbuh dewasa, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk membangun Ka'bah sebagai rumah ibadah pertama yang dikhususkan untuk menyembah Allah. Keduanya menyusun batu demi batu sambil berdoa agar amal mereka diterima oleh Allah SWT.
Pada masa berikutnya, Ka'bah mengalami beberapa kali renovasi. Salah satu yang paling terkenal adalah pembangunan kembali oleh kaum Quraisy sekitar lima tahun sebelum Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu. Karena kekurangan biaya yang berasal dari harta halal, kaum Quraisy tidak mampu membangun Ka'bah sesuai fondasi yang dibuat Nabi Ibrahim AS. Akibatnya, mereka mengurangi sebagian bangunan di sisi utara Ka'bah. Area yang tidak ikut dibangun itulah yang kini dikenal sebagai Hijir Ismail.
Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka'bah. Seseorang yang melaksanakan salat di dalam Hijir Ismail dihukumi seperti salat di dalam Ka'bah. Karena alasan tersebut pula, ketika melaksanakan tawaf, jamaah harus mengelilingi Ka'bah beserta Hijir Ismail dan tidak boleh memotong jalur melalui area tersebut.
Menurut beberapa riwayat, Hijir Ismail juga diyakini sebagai tempat yang pernah menjadi tempat tinggal Nabi Ismail AS dan ibunya, Hajar. Bahkan terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa di kawasan tersebut terdapat makam Hajar dan Nabi Ismail AS. Namun, riwayat mengenai lokasi makam tersebut tidak memiliki kepastian yang kuat sehingga tidak dapat dijadikan dasar keyakinan.
Bagi umat Islam, Hijir Ismail merupakan tempat yang sangat mulia. Banyak jamaah memanfaatkan kesempatan untuk melaksanakan salat sunah, berzikir, membaca Al-Qur'an, dan memanjatkan doa di tempat tersebut. Walaupun tidak ada doa khusus yang diwajibkan di Hijir Ismail, tempat ini menjadi salah satu lokasi yang penuh kekhusyukan dan mengingatkan umat Islam akan keteladanan Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan tawakal.
Kisah Hijir Ismail mengajarkan bahwa keimanan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah akan selalu membawa keberkahan. Dari sebuah lembah tandus yang dahulu sunyi, Allah menjadikannya pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia hingga akhir zaman.